Kelembutan

SEORANG teman saya terkenal punya sifat emosional. Ia memiliki julukan sumbu pendek, semasa kuliah dulu. Berkali-kali kami ikut berkelahi hanya gara-gara membela dirinya. Belum lama ini, ketika berjumpa kembali dengannya, saya melihat perkembangan luar biasa. Ia jauh dari kesan emosional. Suaranya perlahan, tertata, dengan kesabaran dalam. Saya dan teman-teman mendesak dirinya untuk bercerita.

Alkisah, usai kuliah ia jatuh cinta pada seorang gadis Jawa dari keluarga terpandang. Sistem pendidikan di keluarga ini keras sekali, sehingga si gadis Jawa itu halus dan sabar luar biasa. Teman saya menganggap gadis Jawa ini serba lelet. Entah kenapa, Tuhan punya rencana sendiri. Mereka menikah juga, di Eropa, ketika keduanya kuliah pascasarjana.

Selama 10 tahun menikah, mereka terombang-ambing prahara. Maklum, teman saya itu ketika kuliah terkenal sebagai playboy. Namun, perkawinan itu selamat hingga kini. Teman saya ahirnya berubah. Kini, ia dikenal sebagai pemimpin penyabar, juga arif dan bijaksana.

Ia menyebut ilmu istrinya sebagai manajemen kelembutan. Teman-teman yang mendengar cerita ini terharu, dan manggut-manggut. Ceritanya memang luar biasa: bagaimana kelembutan bisa mengubah perilaku.

Saya ingat ajaran klasik Cina dari I Ching. Intinya, bila alirannya tertahan, air akan berhenti sejenak, menambah volumenya, akhirnya meluber melewati rintangan. Barangkali inilah yang diperlukan Presiden Amerika, George Bush, agar mau sadar dan menyurutkan niatnya berperang melawan Irak.

Manajemen kelembutan memang unik. Saya ingat ajaran mentor saya, Mahatma Gandhi, tentang ahimsa, yaitu cinta dan damai. Gandhi percaya, ahimsa dapat merangkul siapa saja, kekuatannya dahsyat tanpa batas. Kita mungkin sukar percaya bahwa sesuatu yang lemah dan lentur mampu mengalahkan yang keras. Sebab, sejak kecil secara fisik kita diajari: hanya benda keras seperti palu dan martil yang bias memecahkan batu dan tembok.

Kekuatan ahimsa secara filosofis adalah pada pandangan bahwa tak semua musuh harus ditumpas. Ahimsa menawarkan alternatif, daripada menghancurkan musuh, lebih baik merangkulnya dengan cinta dan damai.

Teman saya bercerita, ketika pertama kali istrinya tahu ia berselingkuh, sang istri memperlihatkan lebih banyak cinta dan damai. Mulanya ia senang-senang saja, menganggapnya bodoh dan lemah. Lama-lama ia malu sendiri. Akhirnya ia sadar, yang sesungguhnya bodoh dan lemah adalah dirinya sendiri.

Ia lalu menerapkan manajemen kelembutan di kantor. Anak buahnya, dan para stafnya, awalnya kaget. Kalau biasanya ia memarahi staf yang berbuat salah, kini ia berbalik mengajarkan di mana letak kesalahan itu, dan menjelaskan hal yang benar. Ia tak menjadi palu atau martil yang menghancurkan.

Anak buah dan para stafnya pun senang karena mereka belajar banyak dari kesalahan yang mereka perbuat. Yang paling ajaib adalah terciptanya budaya malu. Perlahan tapi pasti, manajemen kelembutan itu menunjukkan hasil yang jitu.

Suasana kantor juga menjadi baik. Politik kantor menurun. Gosip makin hilang. Produktivitas pun ikut tumbuh dengan sehat. Kami bisa melihat hasilnya pada teman saya yang berubah 180 derajat. Hanya saja, perlu diingat, manajemen kelembutan bukan berarti kita menjadi plin-plan dan tidak tegas. Buktinya adalah Gandhi sendiri yang tetap tegas dan konsisten menjalankan ahimsa, walau harus membayar mahal dengan nyawanya.

Ketika Gandhi akhirnya tertembak mati pada 25 Januari 1948, Albert Einstein berkomentar: di masa-masa mendatang, generasi penerus kita akan sulit percaya bahwa pernah ada manusia seperti Gandhi.

Sumber : Kafi Kurnia, peka@indo.net.id

Copyright © 2002-04 Gatra.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s