Demontrasi

Beberapa hari terakhir ini, berita-berita di media cetak dan elektronik mengangkat kegiatan demontrasi (demo) yang dilakukan oleh beberapa pihak. Demontrasi yang dilakukan tersebut  mengangkat isu yang berkaitan dengan kenaikan harga BBM atau Ahmadiyah . Dalam era demokrasi saat ini, demontrasi (demo) adalah hal yang wajar dan dijamin oleh UU.

Namun, demontrasi (demo) tersebut cenderung anarkis dan menimbulkan kerugian pada beberapa pihak. Contoh nyata adalah demo yang dilakukan mahasiswa di kampus Universitas Nasional yang berakhir dengan bentrokan. Pihak mahasiswa dan kampus menjadi pihak yang merugi. Ada lagi demo mahasiswa di depan kampus Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Para mahasiswa melakukan pemblokiran jalan, pembakaran ban, dan mencoret mobil dinas pemerintah dengan cat semprot. Pihak yang dirugikan adalah para pengguna jalan yang terjebak kemacetan. Fakta terbaru adalah demontrasi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Lapangan Monas yang terlibat bentrok dengan Laskar Pembela Islam (LPI). Di sini, peserta demo dari AKKBB banyak yang luka.

Melihat contoh-contoh di atas, saya menjadi bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan demontrasi Atau pihak-pihak yang melakukan demontrasi yang salah? Lalu dimanakah peran pemerintah?

Berdasarkan UU No. 9/2008 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, pasal 6, antara lain menyebutkan bahwa warga negara yang menyampaikan pendapatnya di muka umum berkewajiban dan bertanggung jawab untuk menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain. Pasal 7 di UU yang sama menyebutkan bahwa masyarakat berhak berperan serta bertanggung jawab untuk berupaya agar penyampaian di muka umum dapat berlangsung secara aman, tertib, dan damai. Selanjutnya, pasal 9 menyebutkan bahwa pelaku atau peserta penyampai pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dilarang membawa benda-benda yang dapat membahayakan keselamatan umum.

Nah, dari UU di atas, kita dapat melihat bahwa pemerintah memberikan kebebasan bagi setiap masyarakat untuk melakukan demontrasi dengan tanggung jawab dan menghormati hak dan kebebasan orang lain. Seyogyanya hal ini menjadi pegangan bagi peserta demontrasi. Butuh kedewasaan untuk berpikir dan bersikap. Jangan ada lagi kekerasan, baik itu disengaja maupun tidak. Marilah kita bersama-sama menegakkan demokrasi dan bukan mencoba mendirikan democrazy.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s