Ekonomi Kreatif

Sudah saatnya pemerintah mengganggap serius hal ini. Ekonomi kreatif dapat dikembangkan sebagai sumber devisa bagi negara. Tulisan dari Kafi Kurnia di bawah ini membahas hal tersebut.

Creative Economy
Oleh: Kafi Kurnia, peka@indo.net.id
Sumber: Intrik, Gatra Edisi 23 Beredar Senin, 17 April 2006

DALAM acara ngopi-ngopi dengan seorang teman lama, tiba-tiba saja muncul topik “creative economy“. Kebetulan teman ini senior dalam bidang periklanan. Beliau paham betul makna kata “kreativitas”. Mungkinkah ekonomi kita berubah dari ekonomi yang bertumpu pada pengolahan sumber daya menjadi ekonomi konsep baru yang mengandalkan kreativitas?

Di negara maju, creative economy telah menjadi roda penggerak ekonomi yang tidak bisa lagi dianggap enteng. Industri hiburan yang terdiri dari film, musik, media, dan penerbitan di Amerika Serikat memiliki nilai sangat besar. Tahun 2005, hanya 20% buruh Amerila yang bekerja di sektor industri secara langsung, 80% sisanya diserap sektor lain. Hal yang sama terjadi di India. Lihat aja Bollywood dan sektor software yang berkembang akhir-akhir ini. Semuanya menunjukkan gejala pembaruan ekonomi, yaitu creative economy.

Creative economy punya nilai lebih tinggi. Sebagai pembanding, nilai kapitalisasi saham Microsoft, yang hanya memiliki kurang lebih 30.000pegawai di seluruh dunia, mencapai US$ 600 milyar. Sedangkan nilai kapitalisasi saham McDonald’s, yang pegawainya di seluruh dunia melebihi 300.000 orang, cuma kurang dari sepersepuluh Microsoft. Jelas creative economy bias menjadi potensi sangat dahsyat

Creative economy punya beberapa kelebihan unik. Misalnya saja, sebuah ide, lagu, atau film dapat menyebar ke seluruh dunia dalam tempo sangat singkat, sekalipun jalur distribusinya 100% secara virtual. Berbeda dengan produk-produk industri nyata, yang butuh logistik dan jalur distribusi berlapis-lapis. Di samping mahal, juga memakan sumber daya dengan kecepatan jauh lebih rendah.

Hanya saja, produk-produk creative economy, seperti film, buku, musik, software komputer, dan video games, sangat mudah dipalsukan dan dibajak. Semata-mata karena ongkos menggandakannya sangat murah. Juga dengan teknologi saat ini, kecepatan dan kemampuan memalsukan tak terhitung sangat cepatnya. Lalu, di mana posisi kita dalam creative economy saat ini?

Saya pribadi menganggap creative economy di Indonesia perlu dikembangkan secepat mungkin, untuk menciptakan daya saing yang lebih berimbang secara global. Misalnya saja, beberapa produk creative economy seperti musik Indonesia populer, dangdut, sinetron, dan desain batik sudah menjadi komoditas ekspor yang baik. Potensi lainnya masih banyak. Rahasianya sederhana. Yaitu menggunakan imajinasi untuk menciptakan ide baru, yang mampu mengglobal dan laku diekspor.

Seorang teman berkilah bahwa di kantong-kantong produksi keramik di Jawa Barat atau mebel di Jawa Tengah dan perhiasan serta lukisan di Bali, kita punya sumber daya perajin sangat berpengalaman, terampil, dan mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi. Yang tidak ada justru desainer kreatif yang mampu melahirkan ide-ide baru yang orisinal dan segar, sehingga produk kerajinan tidak melulu berkualitas rendah dengan desain ketinggalan zaman.

Tak mengherankan apabila banyak orang asing, yang datang dengan desain baru yang segar, lalu membuat produknya di sentra produksi di Jawa dan Bali, kemudian mengekspornya dengan nama atau merek sendiri. Buntutnya, perajinkita tetap saja menerima upah yang rendah.

Seorang teman melaporkan, di sebuah butik di Las Vegas, ia melihat sebuah baju kebaya ala Indonesia dipajang di etalase paling depan. Ketika ia bertanya tentang harganya, konon mendekati Rp 200 juta. Ia sampai terkaget-kaget. Ia juga kaget ketika di bandara menemukan sebuah buku tentang kebaya, tetapi bukan ditulis orang Indonesia, melainkan oleh orang Malaysia. Ia pun waswas, jangan-jangan kebaya nantinya diklaim sebagai hasil karya orisinal Malaysia.

Kadang saya sangat sedih melihat desain batik secara sembrono diaplikasikan misalnya, ke dasi, baju seragam, atau produk-produk interior, tanpa sedikit pun memperhatikan kreativitas apik dan komersial. Di Yogyakarta, di sebuah pusat perbelanjaan, sang satpam memakai seragam dengan peci, dasi, dan kemeja yang semuanya dari batik. Tapi kesannya asal tempel. Tidak menggunakan kepekaan estetik. Akibatnya, terlihat seperti batik yang diperlakukan sewenang-wenang.

Ada baiknya sekolah dan pusat pelatihan yang mampu memberdayakan kreativitas dibentuk dan diperbanyak. Semata-mata agar muncul kreativitas yang bisa menggerakkan ekonomi dan daya saing.

One thought on “Ekonomi Kreatif

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s