Enough…!!!

Cukup sudah…!!!

Akhir-akhir ini begitu banyak peristiwa yang sangat menyedihkan dan membuat miris. Sebut saja peristiwa bentrokan di Tarakan dan Ampera (Jakarta), serta 2 tabrakan kereta di Jawa Tengah. Banyak nyawa yang melayang di peristiwa tersebut (saya menganggapnya banyak, ga tahu lagi kalau ada pihak yang menganggap jumlah tersebut sedikit).

Satu hal penting yang perlu digarisbawahi di sini adalah nyawa manusia di negeri tercinta ini tidak ada harganya. Begitu mudah sesorang kehilangan nyawanya karena hal-hal yang konyol. Bagaimana ga konyol kalau seseorang harus mati karena tawuran antar sesama dan kecelakaan yang seharusnya tidak terjadi apabila pihak2 yang terkait mematuhi Standard Operation Procedure (SOP) yang telah ditetapkan.

Sudah saatnya kita melakukan intropeksi dengan melakukan kajian terhadap diri sendiri. Ga usah kita menuntut pemerintah harus begini-begitu karena hal tersebut adalah PERCUMA dan sebuah kesia-siaan belaka. Pemerintah masih sibuk dengan kepentingannya sendiri. Elite politik sibuk dengan usaha-usaha untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan dan mempertahakankan posisinya.

Terdampar di Negeri Kangguru

Jarum jam menunjukkan pukul 12.30 ketika saya membuka mata, terbangun dari tidur. Di jendela pesawat terlihat landasan yang semakin dekat dan tak terasa sebentar lagi saya akan menginjakkan kaki di Brisbane, ibukota negara bagian Queensland.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8jam (Jakarta-Sydney = 7 jam dan Sydney-Brisbane = 1 jam), senang hati ini karena tiba saatnya bagi saya untuk melakukan eksplorasi di negeri orang.

Setelah turun dari pesawat, dalam perjalanan untuk mengambil bagasi, saya bertemu dengan para penjemput (seorang driver dari University of Queensland (UQ) dan teman-teman dari UQISA (University of Queensland Indonesia Student Association)). Setelah selesai mengambil koper yang beratnya lumayan, saya segera menuju ke mobil jemputan yang telah menunggu dan menuju temporary accomodation, yang alhamdulillah sangat dekat dengan kampus. Kemudian sekitar pukul 13.30 waktu Brisbane dimulailah campus tour dengan dipandu oleh teman-teman dari UQISA.

Inilah hari pertama saya di negeri kangguru…

Sedikit Orang Baik di Republik yang Luas

SEBUAH gagasan yang agak mustahil: mencari 10 bupati atau wali kota sebagai Tokoh Tempo 2008. Bukan karena majalah ini meragukan kecakapan pemimpin daerah. Soalnya, tak mudah memilih yang sedikit itu dari 472 kabupaten dan kota di seantero Tanah Air. Kesulitan datang ketika menetapkan kriteria. Kalau hanya melihat pendapatan asli daerah, sebagai misal, bukankah ini hanya menguntungkan kabupaten yang dari ”sono”-nya memang kaya. Bupati berprestasi di daerah miskin pasti tak akan terpilih. Kalau memakai ukuran indeks pembangunan manusia saja, hasilnya akan bias karena ada bupati yang baru memimpin tiga tahun dan ada yang sudah hampir sepuluh tahun. Alhasil, tak mudah mencari sedikit ”orang baik” itu.

Ada begitu banyak pelajaran dari sepuluh tokoh ini. Yang terpenting, Jakarta perlu percaya bahwa daerah bisa mengurus diri sendiri. Banyak tokoh lokal yang ternyata mampu melahirkan terobosan dan inovasi—yang tak muncul pada masa kepala daerah ”diterjunkan” dari atas. Mereka menolak fenomena klasik birokrasi: korupsi, inefisiensi, bekerja tanpa visi. Sepuluh orang ini menempatkan teladan dan kejujuran di urutan pertama. Mereka percaya, komunikasi yang intens merupakan kunci keberhasilan, bukan komunikasi yang instan. Mereka sabar mendengar rakyat, dan bekerja mencapainya.

Seperti kata Jusuf Serang Kasim, Wali Kota Tarakan, negara kesatuan ini memang harus dibangun dari daerah. Dokter ini pun menyulap Tarakan dari kota sampah menjadi ”Singapura kecil” dalam waktu sepuluh tahun. Sebelum era otonomi, Jusuf mengaku tak ubahnya seorang satpam yang hanya melaksanakan perintah atasan.

Seorang Untung Sarono Wiyono Sukarno dengan kegairahan luar biasa pada teknologi informasi menghubungkan semua desa di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dengan jaringan Internet. Di tangan pengusaha minyak dan gas itu efisiensi pemerintahan meningkat pesat.

Wali Kota Solo, Joko Widodo—yang di daerahnya disapa Jokowi—mendemonstras ikan bagaimana memanusiakan warganya. Ketika harus memindahkan pedagang kaki lima, ia lebih dulu mengundang makan para pelaku sektor informal itu. Ia tak memilih jalan pintas: mengerahkan aparat atau membakar lokasi. ”Setelah makan, ya, saya suruh pulang lagi,” kata Jokowi. Setelah undangan makan yang ke-54, baru ia yakin pedagang siap dipindahkan. Acara pemindahan meriah, lengkap dengan arak-arakan yang diramaikan pasukan keraton. Para pedagang gembira ria, mereka menyediakan tumpeng sendiri.

Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto mendapat julukan ”Wagiman” alias wali kota gila taman. Tapi ia tak peduli. Ia terus berjalan, membeli lahan-lahan kosong hanya untuk taman. Yogya terasa segar, karena taman bertambah dari 9 menjadi 22 hektare.

Bertahun-tahun Lapangan Karebosi di Makassar menjadi milik para waria pada malam hari. Kemudian datanglah wali kota baru, Ilham Arif Sirajuddin, 43 tahun, yang dengan berani mengubah lapangan itu. Ia yakin, warga Makassar perlu lebih banyak ruang terbuka. Ia dilawan, didemo, tapi ia tahu bahwa kepentingan publik nomor satu. Lapangan kumuh dan kerap direndam banjir itu akhirnya menjelma menjadi tempat yang megah tanpa kehilangan label sebagai tempat rendezvous penduduk.

Di Blitar, Jawa Timur, Djarot Saiful Hidayat memulai pekerjaan dengan mereformasi birokrasi yang tambun dan lamban. Dengan begitu, ”Anggaran belanja daerah pasti cukup, asal jangan dikorupsi,” kata penerima berbagai penghargaan di tingkat nasional ini. Ia tak mengganti mobil dinasnya, Toyota Crown tahun 1994, sejak hari pertama menjabat. ”Modal saya hati. Saya ingin warga Blitar maju dan sejahtera,” ujar Djarot, yang sudah dua periode menjabat.

David Bobihoe meruntuhkan pagar rumah dinasnya di Kota Limboto, ibu kota Kabupaten Gorontalo. Pos jaga ia ratakan dengan tanah. Tamu dari mana saja bebas duduk-duduk di teras rumah, tanpa terhadang aturan protokol ketat. Dia rajin berkeliling daerah, mendengar kemauan orang banyak. Ia sukses mengajak rakyat membangun, menanam jagung, dan mengekspor hasilnya.

Bupati Badung, Bali, Anak Agung Gde Agung, punya masalah berat: ekonomi penduduk timpang. Di daerah selatan, Kuta dan sekitarnya, masyarakat makmur karena pariwisata. Tapi petani di utara miskin. Sekolah pertanian ia bangun. Agrobisnis dikembangkan. Ia berhasil. Badung sekarang sanggup menyumbangkan sebagian pendapatan untuk enam kabupaten lain di Bali.

Nun jauh di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Bupati Andi Hatta Marakarma menghadapi daerah pemekaran dengan potensi bagus tapi miskin prasarana. Ia membangun desa, termasuk jalan, dan membiarkan kantornya sangat sederhana. Resepnya jitu. Ekonomi rakyat berkembang. ”Dulu ongkos angkut satu karung gabah Rp 9.000, sekarang hanya Rp 2.000,” kata salah seorang ketua kelompok tani di Luwu.

Bupati Jombang Suyanto mengundang dokter-dokter spesialis berpraktek di puskesmas. Protes datang dari instansi kesehatan karena ia dinilai melecehkan dokter spesialis. Ia jalan terus dan sekarang puskesmas menyandang tingkatan ISO. Ia juga menggratiskan sekolah sampai sekolah lanjutan atas. ”Pemimpin itu tak perlu cerdas sekali. Yang penting lurus hati, mulai berpikir sampai berbuat,” ujar bupati yang mengaku hanya menghabiskan Rp 40 juta untuk pemilihan kepala daerah itu.

Di antara miskinnya stok pemimpin di tingkat nasional, otonomi daerah terbukti sudah memunculkan talenta-talenta baik, muda, kreatif, dan tahu benar cara memikat hati rakyat. Mereka tidak hanya berasal dari birokrasi, tapi juga datang dari kalangan pengusaha atau pendidik. Mereka lahirkan kejutan yang asyik. Satu yang membanggakan: mereka tidak terkena virus korupsi.
Kami yakin, masih banyak lagi tokoh berprestasi yang luput dari radar kami. Tapi 10 Tokoh Tempo 2008 ini agaknya mewakili satu kenyataan: masih banyak orang yang bekerja dengan hati, untuk Indonesia yang lebih baik.

Sumber: Mailing List

Cepat Sekali…

Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB di hari Jumat saat ponsel di meja berbunyi. Ketika saya angkat, terdengar suara perempuan di seberang sana. Suara tersebut memberitahukan bahwa surat kontrak sebagai penerima beasiswa telah selesai dan dapat diambil serta ditandatangani.

Wow, cepat sekali… padahal saya baru menerima pemberitahuan placement hari Rabu dan hanya selisih 2 hari saya kemudian menerima kabar lanjutannya. Tapi… karena sedang banyak kerjaan, saya memutuskkan untuk mengambil surat kontrak tersebut pada hari Senin. Itupun kalau sempat dan ga ada meeting di kantor.

Ganti Penampilan

Setelah sekian lama menggunakan Simpla sekarang saya mencoba untuk berpindah ke Journalist 1.9. Theme ini kelihatan lebih simple dan ringan dibuka apabila menggunakan koneksi internet yang pas-pasan. Pengennya sih pakai yang lebih ringan lagi biar kalau nge-blog bisa dilakukan via ponsel. 😀 Tapi… ada ga ya?

Diterima…

Kemarin siang di pojok kanan bawah layar Wind-ku, tiba-tiba muncul sebuah amplop kecil berwarna kuning. Amplop tersebut merupakan tanda akan adanya e-mail yang baru masuk. Seketika itu juga saya klik amplop tersebut dan terbukalah sebuah surat elektronik yang saya nanti-nantikan. Email tersebut berisikan pemberitahuan bahwa saya diterima di University of Queensland untuk jurusan Master of Business Economics.

Alhamdulillah….