Tekanan yang Dihadapi oleh Mahasiswa di Luar Negeri

Pagi ini saya menerima kabar yang sangat mengejutkan. Seorang mahasiswi Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S3 di Australia telah melakukan percobaan bunuh diri. Hal tersebut dilakukan di tempat tinggalnya. Untungnya, seorang teman kosnya sempat memergokinya dan segera menelpon polisi. Akhirnya mahasiswi tersebut dibawa ke rumah sakit dan harus menjalani perawatan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hidup di negeri orang tidak dapat dianggap enteng. Perlu perjuangan yang ekstra keras untuk bisa survive. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa belajar di luar negeri melalui program beasiswa sangat menyenangkan. Tapi bagi pihak yang mengalaminya, hal tersebut belum tentu benar.

Iklan

Terdampar di Negeri Kangguru

Jarum jam menunjukkan pukul 12.30 ketika saya membuka mata, terbangun dari tidur. Di jendela pesawat terlihat landasan yang semakin dekat dan tak terasa sebentar lagi saya akan menginjakkan kaki di Brisbane, ibukota negara bagian Queensland.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8jam (Jakarta-Sydney = 7 jam dan Sydney-Brisbane = 1 jam), senang hati ini karena tiba saatnya bagi saya untuk melakukan eksplorasi di negeri orang.

Setelah turun dari pesawat, dalam perjalanan untuk mengambil bagasi, saya bertemu dengan para penjemput (seorang driver dari University of Queensland (UQ) dan teman-teman dari UQISA (University of Queensland Indonesia Student Association)). Setelah selesai mengambil koper yang beratnya lumayan, saya segera menuju ke mobil jemputan yang telah menunggu dan menuju temporary accomodation, yang alhamdulillah sangat dekat dengan kampus. Kemudian sekitar pukul 13.30 waktu Brisbane dimulailah campus tour dengan dipandu oleh teman-teman dari UQISA.

Inilah hari pertama saya di negeri kangguru…

Sedikit Orang Baik di Republik yang Luas

SEBUAH gagasan yang agak mustahil: mencari 10 bupati atau wali kota sebagai Tokoh Tempo 2008. Bukan karena majalah ini meragukan kecakapan pemimpin daerah. Soalnya, tak mudah memilih yang sedikit itu dari 472 kabupaten dan kota di seantero Tanah Air. Kesulitan datang ketika menetapkan kriteria. Kalau hanya melihat pendapatan asli daerah, sebagai misal, bukankah ini hanya menguntungkan kabupaten yang dari ”sono”-nya memang kaya. Bupati berprestasi di daerah miskin pasti tak akan terpilih. Kalau memakai ukuran indeks pembangunan manusia saja, hasilnya akan bias karena ada bupati yang baru memimpin tiga tahun dan ada yang sudah hampir sepuluh tahun. Alhasil, tak mudah mencari sedikit ”orang baik” itu.

Ada begitu banyak pelajaran dari sepuluh tokoh ini. Yang terpenting, Jakarta perlu percaya bahwa daerah bisa mengurus diri sendiri. Banyak tokoh lokal yang ternyata mampu melahirkan terobosan dan inovasi—yang tak muncul pada masa kepala daerah ”diterjunkan” dari atas. Mereka menolak fenomena klasik birokrasi: korupsi, inefisiensi, bekerja tanpa visi. Sepuluh orang ini menempatkan teladan dan kejujuran di urutan pertama. Mereka percaya, komunikasi yang intens merupakan kunci keberhasilan, bukan komunikasi yang instan. Mereka sabar mendengar rakyat, dan bekerja mencapainya.

Seperti kata Jusuf Serang Kasim, Wali Kota Tarakan, negara kesatuan ini memang harus dibangun dari daerah. Dokter ini pun menyulap Tarakan dari kota sampah menjadi ”Singapura kecil” dalam waktu sepuluh tahun. Sebelum era otonomi, Jusuf mengaku tak ubahnya seorang satpam yang hanya melaksanakan perintah atasan.

Seorang Untung Sarono Wiyono Sukarno dengan kegairahan luar biasa pada teknologi informasi menghubungkan semua desa di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dengan jaringan Internet. Di tangan pengusaha minyak dan gas itu efisiensi pemerintahan meningkat pesat.

Wali Kota Solo, Joko Widodo—yang di daerahnya disapa Jokowi—mendemonstras ikan bagaimana memanusiakan warganya. Ketika harus memindahkan pedagang kaki lima, ia lebih dulu mengundang makan para pelaku sektor informal itu. Ia tak memilih jalan pintas: mengerahkan aparat atau membakar lokasi. ”Setelah makan, ya, saya suruh pulang lagi,” kata Jokowi. Setelah undangan makan yang ke-54, baru ia yakin pedagang siap dipindahkan. Acara pemindahan meriah, lengkap dengan arak-arakan yang diramaikan pasukan keraton. Para pedagang gembira ria, mereka menyediakan tumpeng sendiri.

Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto mendapat julukan ”Wagiman” alias wali kota gila taman. Tapi ia tak peduli. Ia terus berjalan, membeli lahan-lahan kosong hanya untuk taman. Yogya terasa segar, karena taman bertambah dari 9 menjadi 22 hektare.

Bertahun-tahun Lapangan Karebosi di Makassar menjadi milik para waria pada malam hari. Kemudian datanglah wali kota baru, Ilham Arif Sirajuddin, 43 tahun, yang dengan berani mengubah lapangan itu. Ia yakin, warga Makassar perlu lebih banyak ruang terbuka. Ia dilawan, didemo, tapi ia tahu bahwa kepentingan publik nomor satu. Lapangan kumuh dan kerap direndam banjir itu akhirnya menjelma menjadi tempat yang megah tanpa kehilangan label sebagai tempat rendezvous penduduk.

Di Blitar, Jawa Timur, Djarot Saiful Hidayat memulai pekerjaan dengan mereformasi birokrasi yang tambun dan lamban. Dengan begitu, ”Anggaran belanja daerah pasti cukup, asal jangan dikorupsi,” kata penerima berbagai penghargaan di tingkat nasional ini. Ia tak mengganti mobil dinasnya, Toyota Crown tahun 1994, sejak hari pertama menjabat. ”Modal saya hati. Saya ingin warga Blitar maju dan sejahtera,” ujar Djarot, yang sudah dua periode menjabat.

David Bobihoe meruntuhkan pagar rumah dinasnya di Kota Limboto, ibu kota Kabupaten Gorontalo. Pos jaga ia ratakan dengan tanah. Tamu dari mana saja bebas duduk-duduk di teras rumah, tanpa terhadang aturan protokol ketat. Dia rajin berkeliling daerah, mendengar kemauan orang banyak. Ia sukses mengajak rakyat membangun, menanam jagung, dan mengekspor hasilnya.

Bupati Badung, Bali, Anak Agung Gde Agung, punya masalah berat: ekonomi penduduk timpang. Di daerah selatan, Kuta dan sekitarnya, masyarakat makmur karena pariwisata. Tapi petani di utara miskin. Sekolah pertanian ia bangun. Agrobisnis dikembangkan. Ia berhasil. Badung sekarang sanggup menyumbangkan sebagian pendapatan untuk enam kabupaten lain di Bali.

Nun jauh di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Bupati Andi Hatta Marakarma menghadapi daerah pemekaran dengan potensi bagus tapi miskin prasarana. Ia membangun desa, termasuk jalan, dan membiarkan kantornya sangat sederhana. Resepnya jitu. Ekonomi rakyat berkembang. ”Dulu ongkos angkut satu karung gabah Rp 9.000, sekarang hanya Rp 2.000,” kata salah seorang ketua kelompok tani di Luwu.

Bupati Jombang Suyanto mengundang dokter-dokter spesialis berpraktek di puskesmas. Protes datang dari instansi kesehatan karena ia dinilai melecehkan dokter spesialis. Ia jalan terus dan sekarang puskesmas menyandang tingkatan ISO. Ia juga menggratiskan sekolah sampai sekolah lanjutan atas. ”Pemimpin itu tak perlu cerdas sekali. Yang penting lurus hati, mulai berpikir sampai berbuat,” ujar bupati yang mengaku hanya menghabiskan Rp 40 juta untuk pemilihan kepala daerah itu.

Di antara miskinnya stok pemimpin di tingkat nasional, otonomi daerah terbukti sudah memunculkan talenta-talenta baik, muda, kreatif, dan tahu benar cara memikat hati rakyat. Mereka tidak hanya berasal dari birokrasi, tapi juga datang dari kalangan pengusaha atau pendidik. Mereka lahirkan kejutan yang asyik. Satu yang membanggakan: mereka tidak terkena virus korupsi.
Kami yakin, masih banyak lagi tokoh berprestasi yang luput dari radar kami. Tapi 10 Tokoh Tempo 2008 ini agaknya mewakili satu kenyataan: masih banyak orang yang bekerja dengan hati, untuk Indonesia yang lebih baik.

Sumber: Mailing List

Merah Darahku Putih Tulangku

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sebuah kursus yang diselenggarakan oleh IMF-STI. Kursus berlangsung selama 2 minggu dan membahas hal-hal yang berkaitan dengan dampak kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh suatu negara terhadap perekonomian negara tersebut. Sebagai nara sumber adalah 3 orang tutor, yaitu1 dari Amerika, 1 dari India, dan 1 lagi dari Indonesia.

Yang menarik dari kursus tersebut bukan hanya materi yang diberikan tetapi juga sosok dari salah satu pengajarnya. Pengajar yang dari Indonesia, sebut saja Pak A memiliki background seorang akademisi. Beliau pernah menjadi dosen di sebuah universitas di Australia. Gelar S1, S2, dan S3 yang disandangnya, semuanya diperoleh dari universitas luar. Bahkan, sampai saat ini, beliau juga hidup dan mencari nafkah di luar negeri. Singkat kata, hampir sebagian besar waktunya dihabiskan di negeri orang.

Kehidupan di luar negeri tidak membuat Pak A lupa daratan. Selama di sana, beliau masih mengamati dan memperhatikan perkembangan yang terjadi di Indonesia. Bahkan selama kursus, beliau juga banyak berdiskusi dengan para peserta tentang keadaan perekonomian Indonesia dan langkah-langkah apa yang dapat diambil oleh pemerintah, khususnya dalam menghadapi ancaman krisis yang disebabkan oleh subprime mortgage crisis di Amerika.

Pemikiran-pemikiran yang disampaikan sangat masuk akal dan layak untuk diterapkan. Sekarang tinggal bagaimana caranya agar solusi yang ditawarkan dapat diadopsi oleh pemerintah. Sudah saatnya pemerintah memperhatikan orang-orang seperti Pak A ini. Banyak orang-orang kita yang hidup di luar negeri tetapi masih concern terhadap negaranya. Tidak seperti politikus-politikus di dalam negeri yang lebih mementingkan dirinya sendiri dan partainya.

Dunia Sudah Gila…

Coba perhatikan apa yang menjadi headline di surat kabar atau televisi nasional beberapa hari terakhir ini. Sebuah berita tentang seorang kyai yang menikahi seorang gadis berumur 12 tahun…! Sangat disayangkan seseorang yang katanya kyai sampai melakukan hal seperti itu. Benar-benar… dunia ini sudah sakit dan gila.

Saya memahami bahwa pernikahan merupakan domain pribadi si kyai dan pernikahan tersebut telah disetujui oleh orangtua si gadis serta diperbolehkan oleh agama, tapi saya mencoba untuk melihat dari sisi lain.

1. Dari segi mental. Apakah si gadis benar-benar siap menikah? Pernikahan bukan hanya masalah kebutuhan biologis dan nafsu belaka, tapi lebih dari itu. Dibutuhkan kedewasaan, komunikasi, dan pemahaman dari kedua belah pihak untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

2. Masa depan. Dengan melakukan pernikahan, gadis tersebut harus berhenti sekolah dan masa depan yang sudah terbentang terpaksa ditinggalkan. Padahal menurut informasi, prestasi akademik yang dimilikinya boleh dikatakan bagus.

3. Sikap adil. Memiliki istri lebih dari 1 memang diperbolehkan oleh agama, tetapi syarat-syaratnya cukup berat yaitu ADIL. Adil di sini bukan hanya masalah materi tapi juga masalah hati. Bisakah manusia membagi perasaannya dengan adil? Saya rasa cukup sulit…

Semoga saja, kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Dan semoga saja pemerintah memberikan perhatian yang cukup terhadap masalah ini.

Cepat Sekali…

Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB di hari Jumat saat ponsel di meja berbunyi. Ketika saya angkat, terdengar suara perempuan di seberang sana. Suara tersebut memberitahukan bahwa surat kontrak sebagai penerima beasiswa telah selesai dan dapat diambil serta ditandatangani.

Wow, cepat sekali… padahal saya baru menerima pemberitahuan placement hari Rabu dan hanya selisih 2 hari saya kemudian menerima kabar lanjutannya. Tapi… karena sedang banyak kerjaan, saya memutuskkan untuk mengambil surat kontrak tersebut pada hari Senin. Itupun kalau sempat dan ga ada meeting di kantor.

Ganti Penampilan

Setelah sekian lama menggunakan Simpla sekarang saya mencoba untuk berpindah ke Journalist 1.9. Theme ini kelihatan lebih simple dan ringan dibuka apabila menggunakan koneksi internet yang pas-pasan. Pengennya sih pakai yang lebih ringan lagi biar kalau nge-blog bisa dilakukan via ponsel. 😀 Tapi… ada ga ya?